Sabtu, 24 April 2010

The Albumz..

Me and my friends - Fun Time's




Me and my team work >>>>>













<<<< Walking in the zoo :)

In the end....

It starts with
One thing I don't know why
It doesn't even matter how hard you try
Keep that in mind I designed this rhyme
To explain in due time

All I know
Time is a valuable thing
Watch it fly by as the pendulum swings
Watch it count down to the end of the day
The clock ticks life away

It's so unreal
Didn't look out below
Watch the time go right out the window
Trying to hold on, but didn't even know
Or wasted it all just to “watch you go”

I kept everything inside
And even though I tried, it all fell apart
What it meant to me will eventually be
A memory of a time when

I tried so hard and got so far
But in the end it doesn't even matter
I had to fall to lose it all
But in the end it doesn't even matter

One thing, I don't know why
It doesn't even matter how hard you try
Keep that in mind I designed this rhyme
To remind myself how

I tried so hard
In spite of the way you were mocking me
Acting like I was part of your property
Remembering all the times you fought with me
I'm surprised

It got so far
Things aren't the way they were before
You wouldn't even recognize me anymore
Not that you knew me back then
But it all comes back to me “in the end”

You kept everything inside
And even though I tried, it all fell apart
What it meant to me will eventually be
A memory of a time when

I tried so hard and got so far
But in the end it doesn't even matter
I had to fall to lose it all
But in the end it doesn't even matter

I've put my trust in you
Pushed as far as I can go
And for all this
There's only one thing you should know

I've put my trust in you
Pushed as far as I can go
And for all this
There's only one thing you should know

I tried so hard and got so far
But in the end it doesn't even matter
I had to fall to lose it all
But in the end it doesn't even matter

[LP]

Sabtu, 17 April 2010

Hanya sekedar kata (part-2)

Entah apa yang ada dalam fikiranmu saat ini, aku bisa merasakan tapi sungguh gak bisa aku ungkapkan..
hanya perasaan suka aku mulai sedikit berkata bahwa aku peduli atas semua yang terjadi..

Merasa baik bagimu akan lebih baik walaupun mungkin akhirnya akan gak baik bagiku….
Mungkin inilah cinta tapi hati seakan berkata lain, ini bukanlah cinta hanya sekedar perasaan suka atas perasaan yang ada dan kunikmati itu…
terdengar rumit memang kalau sudah berbicara tentang hati…

Sudahlah… gak akan kubahas panjang lebar kali tinggi semua rasa ini… :D

Aku gak mau berharap banyak, karena kutahu kaupun berfikir begitu..
Siapa aku??! Aku bukanlah siapa siapa..

Aku sudah tahu dan kaupun tahu, namun gak ada jawaban yang pasti akan semua pertanyaan…
Waktu kan terus berputar, perasaan itu akan terus datang dan pergi gak mungkin bisa menghindar..

Kenapa baru sekarang semua rasa itu datang,
hmm… lagi lagi kenapa ku harus menyalahkan waktu dan keadaan.. (astaghfirullahaladzim…. –red)

Hanya sekedar kata


Kata apa yang tepat untuk menggambarkan perasaan yang tengah ada saat ini.
begitu mudah sang penyair melukiskan perasaan dengan kata2 indah… entah dengan cara bagaimana mereka bisa melakukannya.. apakah dengan berkhayal, bermimpi atau apalah aku gak akan terlalu serius memikirkannya……….
ketahuilah aku memang bukanlah siapa2, bukanlah orang besar seperti yang kau kira..
aku hanya orang kecil yang terjebak diantara orang2 besar..
tapi aku bersyukur akan hal itu..
Detik demi detik seakan gak dihiraukan, ingin teriak….. percuma gak kan ada gunanya…
Biarkan ku berfikir sejenak, memejamkan mata, tenangkan hati dan merasakan segala sesuatunya dengan baik, ga tau apa maksud dari semua ungkapan ini… sekedar iseng atau hanya sekedar ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa aku bisa…!? Ah.. entahlah mungkin saat ini kubiarkan saja semua berjalan semestinya.
Akan tiba saatnya insya Allah aku percaya cahaya itu pasti ada, cahaya ketenangan, kedamaian , kesejukan yang menghangatkan. Begitu banyak waktu terbuang, begitu banyak kesempatan dan harapan namun kenapa keraguan ini masih saja hinggap di otakku..
Rasa senang, gelisah, bahagia, sedih, marah, ceria hanyalah sebuah permainan rasa yang kan datang silih berganti.. inilah hidup, gak ada yang perlu disesali.. saat ini detik ini adalah kehidupan nyata yang pasti…
hari kemarin dan hari esok hanyalah permainan fikiran yang rumit..
“Setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda, hargailah mereka seperti mereka menghargai fikiranmu”, begitulah kata yang kadang selalu terdengar ditelinga..
gak ada yang salah dan gak ada yang perlu dipersalahkan, buka hati dan fikiran, rasakan keheningan, dan nikmati segala keindahan yang ada saat ini.
Ketidakpastian yang ada selalu menjadi hal yang mengesalkan, hati yang berkecamuk merasakan kegelisahan yang teramat sangat kadang membuat jiwa ini merasa terombang ambing ga tentu arah dan tujuan.. hati keras yang tak mampu di bujuk oleh kebenaran sungguh pasti kan terasa meresahkan..
Kupejamkan kembali sejenak mataku, kembali merasakan keheningan… terdiam dan terpaku menerawang segala pemikiran yang hampir terbuang..
Perlahan cahaya itu hadir, hangat sekali rasanya walaupun kecil… kian hari cahaya itu kian membesar namun seketika kembali meredup dan tiba2 hilang tertiup angin….
Hmm… mencoba untuk tidak menyalahkan waktu dan keadaan, cahaya diciptakan memang gak kan selamaya bersinar
Setiap janji yang terucap, setiap harapan positif yang terfikirkan, setiap tindakan yang dilakuan dan setiap impian yang kadang tidak sesuai dengan harapan semoga menjadi motivasi tuk bisa menjadi lebih baik.
Banyak janji2 manis yang seringkali kutemui bahkan aku lontarkan. Pada awalnya janji tersebut membuatku, kita atau orang lain termotivasi. Namun, ketika janji tersebut tidak terealisasi ataupun terlupakan maka motivasi yang telah ada biasanya menjadi rapuh dalam sekejap.
Hal seperti ini semoga menjadi inspirasi dalam mengantisipasi segala kemungkinan.
Waktu terus berlalu, semoga hari ini gak menjadi sia sia… setidaknya aku masih bisa menghasilkan sesuatu walaupun itu mungkin terlihat kecil dimata orang lain tapi tidak bagiku..
Biarkan saja orang lai menjalani hidup apa adanya, yang penting anda tidak.
Biarkan saja orang lain memperdebatkan hal2 yang sepele yang penting anda tidak.
Biarkan saja orang lain menangisi luka yang kecil, yang penting anda tidak dan biarkan saja orang lain mempertaruhkan masa depannya ditangan orang lain, yang penting anda tidak…………… (Jim Rohn)

Hari kian petang, kusudahi saja tulisan ini…. hmm
Bukan apa2 hanya sekedar ungkapan rasa.. jangan dibaca kalo gak suka… eh tapi sudah terlanjur dibaca ya.. hehe gpp.

-Just keep your fingers crossed!!

Sabtu, 02 Januari 2010

Dear God - A7Lyric

Intro: F-C-Dm-Am-Bb-F-C x2


F C Dm Am
A lonely road, crossed another cold state line
Bb F C
Miles away from those I love purpose hard to find
F C Dm Am
While I recall all the words you spoke to me
Bb F
Can't help but wish that I was there
C
Back where I'd love to be, oh yeah


F C Dm C
Dear God the only thing I ask of you is
Bb F
to hold her when I'm not around,
C
when I'm much too far away
F C Dm C
We all need that person who can be true to you
Bb F
But I left her when I found her
C
And now I wish I'd stayed
Bb C
’Cause I'm lonely and I'm tired
Am Dm C Bb
I'm missing you again oh no
F
Once again


F C Dm Am
There's nothing here for me on this barren road
Bb F
There's no one here while the city sleeps
C
and all the shops are closed
F C Dm Am
Can't help but think of the times I've had with you
Bb F C
Pictures and some memories will have to help me through, oh yeah


F C Dm C
Dear God the only thing I ask of you is
Bb F
to hold her when I'm not around,
C
when I'm much too far away
F C Dm C
We all need that person who can be true to you
Bb F
I left her when I found her
C
And now I wish I'd stayed
Bb C
’Cause I'm lonely and I'm tired
Am Dm C Bb
I'm missing you again oh no
F
Once again


Dm Am Bb F
Some search, never finding a way
Dm Am Bb F
Before long, they waste away
Dm Am Bb F
I found you, something told me to stay
Dm Am Bb F
I gave in, to selfish ways
Gm C
And how I miss someone to hold

when hope begins to fade...

Selasa, 25 Agustus 2009

Ketulusan Seorang Anak Kecil

Mungkin dapat dibaca untuk mengisi waktu luang Anda.

Yu Yuan

Kisah ini tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kalimat terakhir yang ia tinggalkan di batu nisannya adalah: "Saya pernah datang dan saya sangat penurut". Anak ini rela melepaskan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dia membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya.

Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya.

Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 Imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.

Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, “Saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan.” Kemudian, papanya memberikan dia nama Yu Yan.

Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada ASI dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.

Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papanya mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.

Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.

Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia. Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut, sehingga papanya membawa Yu Yuan ke sebuah Puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengeluarkan darah dan tidak mau berhenti. Di pahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa.

Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri di kursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.

Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar $300.000. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang ke sanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.

Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir di kala kata-kata belum sempat terlontar. “Papa, saya ingin mati”.

Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, “Kamu baru berumur 8 tahun, kenapa mau mati?”. “Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.”

Pada tanggal 18 Juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri.

Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: “Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya, lihatlah foto ini”. Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.

Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yang berumur 8 tahun mengatur pemakamannya sendiri dan akhirnya menyebar ke seluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu negara bahkan sampai ke seluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.

Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese di dunia saja telah terkumpul 560.000 dollar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.

Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan, tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati.. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan. Ada seorang teman di-email bahkan menulis: “Yu Yuan, anakku yang tercinta, aku mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Aku mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Aku mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan, anakku tercinta.”

Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita di dalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu Yuan yang dari dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perempuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.

Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, “Anak yang baik”. Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Ia pernah mengalami pendarahan di pencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.

Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.

Pada tanggal 20 Agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: "Tante, kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya?" tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab, “Karena mereka semua adalah orang yang baik hati.” Yu Yuan kemudian berkata : “Tante, saya juga mau menjadi orang yang baik hati.” Wartawan itupun menjawab, “Kamu memang orang yang baik... Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik.” Dari bawah bantal tidurnya Yu Yuan mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. “Tante, ini adalah surat wasiat saya.”

Fu Yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan di atas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.

Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang-orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. “Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakan ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh.” Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.

”Saya pernah datang, saya sangat patuh,” demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 Agustus, karena pendarahan di pencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Karena berusaha mencari makanan, Yu Yuan mengambil mie instan dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis.

Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air sungguh telah pergi ke dunia lain.

Di kecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumpuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan “Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil di atas langit, kepakkanlah kedua sayapmu. Terbanglah……………” demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa-mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.

Di depan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Diatas batu nisannya tertulis, “Aku pernah datang dan aku sangat patuh” (30 Nov 1996- 22 Agustus 2005). Dan di belakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah di saat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia.

Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita leukimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis di raut wajah anak tersebut. “Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan, kamu pasti sedang melihat kami di atas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata: “Aku pernah datang dan aku sangat patuh”.


Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN